TopCareer.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Papua masih terjadi.
Dampak asap kebakaran bahkan sudah dirasakan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Fiqri Ardiansyah, Pakar Bidang Kebakaran Hutan dan Lahan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, penyebab masih terjadinya karhutla di Indonesia adalah karena periode El Nino yang berlangsung cukup lama.
Selain itu, curah hujan yang mendekati nol membuat kondisi bahan bakar seperti lahan gambut, menjadi lebih rentan.
“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan,” kata Fiqri, mengutip laman UGM, Kamis (16/10/2026).
Baca Juga: Karhutla Berulang, Satwa Liar Kehilangan Rumah tuk Pulang
Kerentanan meningkat dengan berjalannya musim kemarau, karena tidak adanya pasokan air yang cukup untuk menjaga kelembapan bahan bakar.
Namun, Fiqri menegaskan kekeringan tidak secara langsung menjadi satu-satunya penyebab kebakaran. Karhutla tetap perlu sumber penyulutan atau ignition yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.
“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas,” katanya.
“Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” Fiqri menjelaskan.
Menurut Fiqri, pada ekosistem non-gambut, kebakaran biasanya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga bagian tajuk tanaman. Sementara pada lahan gambut, api dapat membakar permukaan sekaligus lapisan di bawah tanah.
Karakteristik ini membuat proses identifikasi dan pemadaman menjadi lebih kompleks karena sumber bara tidak selalu terlihat secara langsung.
Baca Juga: Bahaya di Balik Asap Karhutla, Bagaimana Cara Tetap Waspada?
Fiqri mengatakan, kebakaran pada gambut berpotensi menyisakan bara di bawah permukaan, meski api di permukaan berhasil dipadamkan. Karena itu, jika penyiraman air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah bisa bertahan dan memicu lagi titik api.
Fiqri mengungkapkan, keberhasilan pemadaman perlu dilihat dari kedalaman dan lokasi kebakaran. Penyiraman yang tidak menjangkau bagian gambut yang terbakar berisiko membuat api kembali muncul atau merambat ke area lain.
“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” ujar Fiqri.
Memastikan sumber bara benar-benar ditangani
Maka dari itu, pemadaman perlu disertai identifikasi yang memadai untuk memastikan bahwa sumber bara benar-benar telah ditangani.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran. Sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau, sementara ketersediaan sumber air, personel, dan sarana-prasarana pemadaman masih terbatas.
“Di beberapa area, sumber airnya terbatas sehingga api tidak bisa langsung dipadamkan seketika. Kebakarannya juga semakin luas, sementara di beberapa wilayah personel ataupun sarana-prasarananya terbatas,” kata Fiqri.
Fiqri mengungkapkan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah sistem pemantauan titik api seperti FIRMS, Sipongi, dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Baca Juga: Karhutla RI Disorot Leonardo DiCaprio: 5 Juta Orang Terpapar Asap
“Kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data deteksi tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level,” katanya..
Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan efektivitas teknologi dan metode pemadaman, terutama dalam menangani kebakaran di bawah permukaan gambut.
“Sejumlah pendekatan, seperti penyuntikan air ke dalam gambut dan penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api, telah dikembangkan,” katanya.
Meski begitu, strategi pemadaman dan bahan yang dipakai masih perlu pengembangan lebih lanjut, agar api benar-benar bisa dipadamkan sampai ke sumbernya.
Penanganan karhutla tak bisa andalkan hujan
Selain itu, penyebaran api dan asap juga dipengaruhi oleh distribusi bahan bakar, kondisi topografi, serta iklim, termasuk arah angin. Faktor-faktor ini menentukan bagaimana api berkembang dan ke mana asap bergerak, sehingga dampak kebakaran dapat meluas dari lokasi awalnya.
Fiqri menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan hujan sebagai solusi.
“Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam pengelolaan dan penyiapan lahan, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau,” katanya.
Baca Juga: Bahaya ISPA Mengintai di Tengah Kemarau dan Karhutla
Selain itu, penanganan kebakaran juga perlu kolaborasi lintas instansi dan penentuan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko.
Prioritas ini perlu perlu mempertimbangkan dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” pungkasnya.



